Saturday, September 29, 2012

Kesabaran Neyla Berbuah Manis

Kesabaran Neyla Berbuah ManisBuruh Migran Indonesia (BMI) Hong Kong yang jadi aktivis sosial dari Halaqoh Minggu, sebut saja namanya Neyla, menceritakan tentang sebuah pengalaman hidup yang tidak pernah bisa dia lupakan seumur hidupnya. Keikhlasan dan kesabarannya berbuah manis. Berikut ini penuturannya:
Tak pernah kubayangkan sebelumnya kalau janda menjadi statusku saat ini. Tiga tahun lalu, aku terus bertahan walau suamiku seorang yang tempramental dan ringan tangan. Hinaan, cacian, dan makian sudah menjadi santapanku sehari-hari. Namun, demi mengemban tugas mulia sebagai seorang istri, seburuk dan sebejat apa pun dia adalah imamku yang wajib aku patuhi.
Suamiku bergaya hidup mewah, tak peduli walau harus utang bank. Aku hanya bisa pasrah karena takut kerasnya pukulan tangannya. Hingga akhirnya utang pun menggunung, tanpa sanggup lagi kami menanggungnya. Sawah hasil jerih payahku selama aku masih gadis pun terancam disita pihan bank.
Demi Allah, utang bank adalah hal yang sangat aku takuti. Tapi, lagi-lagi aku tak berdaya. Di dalam kemelut yang begitu menakutkan itu, aku berdoa kepada Allah. “Ya Allah, berikan aku kemudahan di dalam mengemban amanah-Mu, berjihad demi keluargaku,” pintaku. Kuputuskan untuk menelepon kembali majikanku yang dulu dan alhamdulillah prosesnya  begitu mudah. Dalam sebulan aku langsung berangkat ke Hong Kong. Kemudahan demi kemudahan kutemui.
Namun, ternyata ujianku belum selesai sampai di situ. Tiga bulan aku di Hong Kong, aku mendengar kabar dari kampung halamanku bahwa anakku telantar, tidak diurus oleh bapaknya yang enak-enakan pergi-pulang semaunya dengan perempuan yang bukan muhrimnya. Bagai menggenggam bara, aku mencoba terus bertahan demi masa depan anakku.
Tepat 10 bulan aku bekerja di Hong Kong, di saat potongan agen baru selesai, aku yang tengah berjuang mengumpulkan uang demi menebus sawah kami yang sudah digadaikan. Di saat aku meringkuk tanpa ampun, ucapan talak suamiku menggelegar menambah  ujian bagiku. Kuterima dengan lapang dada, mungkin inilah yang terbaik untukku.
Aku pun berdoa semoga kelak ia mendapatkan yang lebih baik dari aku. Dengan terus semangat dan terus berusaha, akhirnya aku dapat melunasi semua utang yang membelenggu. Gaji pertamaku aku sumbangkan untuk anak yatim dan fakir miskin sebagai wujud syukurku kepada Allah karena telah terlepas dari ujiannya. Alhamdulilah, dengan kesabaran dan terus berdoa, walau kini aku berstatus janda, namun iman masih melekat di dada.
Terima kasih ya Allah atas ridhoMu. Kini aku bisa optimis melangkah, merenda hari esok. Semoga hidupku lebih baik dari hari ini.
Satu pesanku untuk teman-teman, janganlah kejahatan di balas dengan kejahatan, karena balasan Allah mahadahsyat lagi mengerikan. Rumah dan semua harta yang dulu dibangga-banggakan suamiku kini ludes, tak tersisa. Na’udzubillahi min dzalik.
Semoga kita tetap semangat dalam berjuang menggapai cita-cita, demi masa depan anak-cucu kita nanti. Ingat Allah di kala lapangmu, pasti Allah akan mengingatmu di saat kau sempit.

Rindu Arum Tak Tergantikan Dolar

Rindu Arum Tak Tergantikan DolarSebut saja  namaku Arum, Buruh Migran Indonesia (BMI) Hong Kong dari Jawa Timur. Tepat 5,5 tahun lamanya aku merantau jauh dari keluargaku, dari putri semata wayangku. Pendidikan terakhirku hanyalah SMP yang membuatku kesulitan untuk mencari kerja di tanah air.
Aku seorang single parent. Suamiku meninggal dalam kecelakaan 5 tahun yang lalu. Sekian lama setelah aku merantau menjadi Tenaga Kerja Wanita (TKW), aku sering lupa menanyakan kabar putriku.
Putriku tak mengenaliku. Yang dia tahu hanyalah aku seorang pendatang baru di kehidupannya. Dia pun selalu memanggilku dengan sebutan “Mbak”. Ah….! Kecewa, sakit hatiku mendengarnya, tapi apa boleh buat? Memang, sejak umur 3 bulan, dia sudah aku tinggal untuk merantau. Dia juga jarang sekali mau menerima telepon dariku.
Ibuku selalu bercerita kepadanya tentang siapa diriku. Entahlah, mungkin dia juga belum bisa memahami semua ini. Dia malah semakin tak mau berbicara denganku. Aku hanya selalu titip salam untuknya lewat ibuku, bahwa aku sangat rindu padanya. Kata ibu, putriku adalah seorang bocah yang pendiam dan lebih suka memilih bermain sendiri di dalam rumah.
Kontrak pertamaku tinggal beberapa bulan lagi. Majikanku menginginkanku untuk tetap bekerja dengannya. Aku menyanggupinya. Tapi dia memintaku untuk tidak mengambil cuti dan dia akan mengganti uang tiket. Awalnya aku menyetujui semua itu.
Di sini aku mendapat tugas untuk menjaga seorang bocah umur 5 tahun, seumur dengan putriku. Di antara kami pun mulai terjalin sebuah ikatan yang kuat yang membuat kami saling menyayangi. Dia sangat senang ketika tahu bahwa aku tidak mengambil cuti pulang Indonesia.
Aku menelepon ibuku, dan bilang kalau aku tidak akan pulang. Tapi tiba-tiba, ibu menangis. “Masya Allah, Arum anakku, apa kamu tidak kasihan pada putrimu? Setiap malam, sebelum tidur, dia selalu bertanya, kapan ibuku pulang? Aku kangen,” kata ibuku dalam sebuah obrolan di HP.
Aku tak kuasa menahan tangisku. Aku menyampaikan maksudku pada majikan untuk minta cuti di akhir kontrak. Tapi, dengan tegas, dia menjawab: “Tidak!”. Majikanku bilang akan memberiku uang tiket lebih kalau aku tidak mengambil waktu cutiku. Dia berjanji untuk memberiku HK$8000. Tapi, apa pun janjinya, berapa banyak ribu dolar yang akan dia berikan untukku, rinduku takkan tergantikan dolar. Rinduku tidak bisa dijual. Aku tetap ingin cuti, menjenguk putriku.
Alhamdulillah, karena doa dan ikhtiar, hati majikanku terbuka. Dia memberiku izin cuti.
Pesanku pada semua BMI Hong Kong, jangan sampai karena dolar, kita jadi lupa sama keluarga, sama anak, sama suami. Sebenarnya, merekalah harta kita yang paling berharga. Semoga ini bisa dijadikan sebagai pembelajaran untuk kita semua, sejauh apa pun jarak, jangan sampai hubungan komunikasi terputus. Tetap bersilaturahmi, dan tunjukkan bahwa dolar bukan segalanya. Keluargalah yang paling utama.

Warga Hong Kong Rayakan Festival Musim Gugur

Warga Hong Kong Rayakan Festival Musim GugurDDHK News, Hong Kong — Warga Hong Kong merayakan festival musim gugur, Selasa (25/9), di Dragon Fair Garden, Shek Tong Tsui, Hong Kong untuk mempererat hubungan pertetanggaan antar penghuni apartemen.
Selain itu, diadakannya acara ini untuk mengenang sejarah Cina kuno. Perayaan ini berkaitan dengan tradisi syukur masyarakat Cina kuno yang kebanyakan petani, atas hasil panen sawah dan ladang mereka selama musim panas. Meskipun banyak masyarakat Cina modern yang kini sudah tidak lagi menjadi petani, perayaan ini tetap dilakoni sampai sekarang sebagai bentuk pelestarian warisan budaya leluhur dan ajang untuk saling mengucapkan terima kasih antar anggota keluarga dan kerabat.
Acara dimeriahkan oleh beberapa perlombaan yang diselenggarakan oleh Management Office apartemen tersebut, seperti lomba tarik botol, lomba mengambil kelereng dengan sumpit, lomba kreasi lampu stik, dan lomba menebak kata. Lomba ini diikuti oleh anak-anak dan dewasa. (Yulia Cahyaningrum/ddhongkong.org).

Sri Nekat Berjualan di Victoria Park

Sri Nekat Berjualan di Victoria ParkMinggu pagi di sekitar Victoria Park, Sri (nama samaran), Buruh Migran Indonesia (BMI) asal Ponorogo, Jawa Timur, telah mematok tempat di bawah jembatan layang untuk memasarkan dagangannya –nasi ikan, nasi ayam, dan masih banyak lagi menu yang bisa dipilih.
Wanita berusia 30-an tahun ini datang ke Hong Kong dari tahun 1995 karena ada masalah keluarga. Dia sering berselisih paham dengan mertuanya. Suaminya pun jadi ikut-ikutan “menyatroninya”.
Usai kontrak pertama, dia pulang untuk menyelesaikan perceraian dengan suaminya. Dia kembali lagi ke Hong Kong dengan majikan yang berbeda. Tugasnya menjadi double setelah mempunyai status baru sebagai “single parent” dengan dua anak.
“Mantan suamiku sudah tidak mau tahu tentang kami lagi. Kabar terakhir yang aku dengar, dia kecantol dengan wanita lain dan sekarang menghilang tanpa kabar,” katanya.
Tahun 2007, majikan Sri memintanya untuk Stay Out. Majikan menanggung semua biaya sewa kamar dan transportasi. Jam 7 pagi dia datang ke rumah majikan dan bekerja hingga jam 9 malam. Sejak saat itu, dia sering “keluyuran” dengan temannya hingga menyebabkan pengeluarannya “membengkak”.
Tak ada pemasukan kecuali dari gaji per bulan. Beruntung, di tempat kostnya, ada sebuah dapur yang bisa digunakan. Dia mulai mencoba untuk memasak makanan dan menjualnya kepada para BMI yang sedang libur tiap Minggu di Causeway Bay. Ternyata, banyak yang suka masakannya hingga dia mempunyai banyak pelanggan.
Banyak di antara penjual lain yang memesan masakannya untuk dijual kembali oleh mereka. Selain itu, dia juga menerima pesanan tumpeng. Dari jualan inilah, Sri mempunyai pemasukan lebih untuk dikirim ke kampung halaman, untuk kedua anak dan orangtuanya.
Ada suka pasti ada dukanya. Selama jualan di Causeway Bay, sering sekali ada polisi yang berkeliling dan mengawasi kegiatan libur BMI. Tidak jarang barang dagangannya disita oleh polisi-polisi yang berpakaian preman (tidak berseragam). Bahkan, dia juga pernah dipelototin dan digertak oleh “Pak De” –sebutan khas BMI kepada polisi Hong Kong. Hal itu tidak membuatnya kapok, justru dia malah semakin nekat. Seperti makan nasi dengan lauk sambal. Walaupun kepedesan, tetap nambah lagi.
Dia mengaku, ada salah satu temannya yang tertangkap basah sedang berjualan. Polisi langsung menangkapnya. Selang beberapa minggu, temannya dipulangkan ke Indonesia. Menurut pengetahuannya, ada yang didenda, ada juga yang dipenjara. Semua tergantung keputusan pengadilan.
Pesannya untuk BMI, tidak usah kepengen dan ikut-ikutan teman untuk stay out. Ingat pada tujuan kita ke sini untuk mencari dolar, bukan untuk kebebasan. (Yulia Cahyaningrum/ddhongkong.org).*

Khidmat, Dzikir Akbar di Masjid Ammar Wan Chai

Khidmat, Dzikir Akbar di Masjid Ammar Wan ChaiDDHK News, Hong Kong – Dzikir Akbar BMI Hong Kong yang digelar di Masjid Ammar Wan Chai (23/09) berlangsung khidmat. Acara yang bertujuan mempertebal keimanan dan ketakwaan kepada Allah SWT ini dimulai jam 10.00 pagi.
Dalam acara tersebut Ibu Fauzi (istri GM DDHK) menyumbangkan tembang sholawat  “Kereto Jowo” yang mengingatkan kita akan datangnya kematian dan bagaimana proses dicabutnya ruh sampai menuju tempat peristirahatan terakhir kita. “Hanya kepada Allah kita mengharap pertolongan,” katanya.
Sambutan juga diberikan oleh Nunung Nur Wulan dari KJRI Hong Kong. Dalam sambutanya ia menyampaikan hadits Nabi Saw, “Hendaklah kita mengingat lima hal sebelum datang yang lima, yaitu ingat hidup sebelum datangnya matimu, ingat sehat sebelum datangnya sakitmu, ingat kaya sebelum datangnya miskinmu, ingat senang sebelum susahmu, dan ingat saat lapang sebelum datang waktu sempitmu.
Ia menambahkan , dengan bershalawat kita menunjukan kecintaan kepada Rasulullah Saw.
Acara inti dipimpin langsung oleh Ustadzah Mimih Jamilah Mahya (IUHK). Dalam tauziahnya ia mengatakan, tujuan kita berdzikir adalah untuk membersihkan hati kita dari kotoran-kotoran penyakit hati. “Selain itu juga untuk melembutkan hati kita yang mengeras oleh keegoisan kita sebagai manusia,” tegasnya.
Dzikir berlangsung khidmat dan khusyu’. Jamaah tampak tak kuasa membendung air mata mengingat kebesaran Allah SWT dan betapa kerdilnya kita yang penuh berlumuran dosa dan noda.
Setelah acara dzikir selesai, kembali Ibu Fauzi melantunkan shalawat “Ya Rasulallah”. Acara dzikir akbar ini terselenggara atas kerjasama empat organisasi, yaitu Halaqoh, Al-Arofah, Fastabiqul Khoirot, dan Darul Hidayah. (Yulia Cahyaningrum/ddhongkong.org).*

Karena Cinta Nabi Muhammad, BMI Hong Kong Ikut Demo

Karena Cinta Nabi Muhammad, BMI Hong Kong Ikut DemoOleh Yulia Cahyaningrum
Nabi Muhammad SAW adalah utusan Allah SWT (Rasulullah) dan teladan bagi umat Islam. Semua umat Islam pasti mencintai beliau, begitu juga dengan BMI Hong Kong. Kerenanya, mereka pun bergabung dalam aksi demonstrasi besar-besaran, Minggu (23/09), di Charter Garden, Central, Hong Kong sebagai wujud rasa cinta kepada Rasulullah Saw.
Usai menunaikan shalat Zhuhur, mereka mendatangi lokasi unjuk rasa, bergabung dengan demonstran lainnya, menyerukan takbir dan bershalawat atas Nabi Muhammad Saw. Aksi demo ini menentang dan mengutuk keras film Innocence of Muslims yang merendahkan Islam dan Nabi Muhammad Saw.
Film yang diproduksi di Amerika Serikat itu mengisahkan tentang kehidupan Nabi Muhammad yang, parahnya, dibumbui dengan tema pedofil dan homoseksualitas. Selain itu, film ini menggambarkan kehidupan umat Muslim sebagai manusia tak bermoral dan sarat kekerasan.
Bahkan, lebih parahnya lagi, film ini terang-terangan menggambarkan Nabi Muhammad sebagai pria yang gemar tidur dengan banyak wanita dan sering membicarakan soal pembunuhan anak-anak. Itulah yang memicu adanya protes besar-besaran dari kaum Muslim di Hong Kong dan seluruh dunia. (Yulia Cahyaningrum/ddhongkong.org).*

POSMIH Adakan Acara Triwulanan dengan Mujahadah

POSMIH Adakan Acara Triwulanan dengan Mujahadah
DDHK News, Hong Kong — Persatuan Organisasi Muslim Indonesia Hong Kong (POSMIH) mengadakan acara triwulanan, Minggu (23/9), di Masjid Ammar Wanchai lt.6 Hong Kong. Acara yang dimulai jam 11.00 s.d. jam 16.00 diawali oleh beberapa kegiatan, seperti Qiro’ah Quran dan Shalawat, berlanjut dengan bermujahadah dan istighosah bersama yang dipimpin oleh Jumari, Ketua POSMIH, dan Toni.
Acara ini dihadiri oleh perwakilan dari 54 organisasi yang tergabung dalam POSMIH. Dalam rapat triwulan ini, para anggota bermusyawarah dan mengambil kesepakatan bersama, antara lain membahas tentang acara tiga bulan yang lalu, seperti menjadi panitia dan dipercaya KJRI Hong Kong untuk meng-handle acara shalat idul fitri di lapangan Victoria Park.
Untuk acara tiga bulan mendatang, POSMIH akan mengadakan training dakwah, Minggu (14/10), di Masjid Ammar Wanchai, khususnya untuk para anggota POSMIH dan terbuka untuk umum.
POSMIH berdiri sejak 2009. Saat ini anggota POSMIH terdiri dari 54 organisasi keislaman Buruh Migran Indonesia di Hong Kong (BMI HK). Dewan Pembina POSMIH adalah K.H. Abdul Muhaimin Karim dari Islamic Union of Hong Kong (IUHK). (Yulia Cahyaningrum/ddhongkong.org).