Saturday, September 29, 2012

Rindu Arum Tak Tergantikan Dolar

Rindu Arum Tak Tergantikan DolarSebut saja  namaku Arum, Buruh Migran Indonesia (BMI) Hong Kong dari Jawa Timur. Tepat 5,5 tahun lamanya aku merantau jauh dari keluargaku, dari putri semata wayangku. Pendidikan terakhirku hanyalah SMP yang membuatku kesulitan untuk mencari kerja di tanah air.
Aku seorang single parent. Suamiku meninggal dalam kecelakaan 5 tahun yang lalu. Sekian lama setelah aku merantau menjadi Tenaga Kerja Wanita (TKW), aku sering lupa menanyakan kabar putriku.
Putriku tak mengenaliku. Yang dia tahu hanyalah aku seorang pendatang baru di kehidupannya. Dia pun selalu memanggilku dengan sebutan “Mbak”. Ah….! Kecewa, sakit hatiku mendengarnya, tapi apa boleh buat? Memang, sejak umur 3 bulan, dia sudah aku tinggal untuk merantau. Dia juga jarang sekali mau menerima telepon dariku.
Ibuku selalu bercerita kepadanya tentang siapa diriku. Entahlah, mungkin dia juga belum bisa memahami semua ini. Dia malah semakin tak mau berbicara denganku. Aku hanya selalu titip salam untuknya lewat ibuku, bahwa aku sangat rindu padanya. Kata ibu, putriku adalah seorang bocah yang pendiam dan lebih suka memilih bermain sendiri di dalam rumah.
Kontrak pertamaku tinggal beberapa bulan lagi. Majikanku menginginkanku untuk tetap bekerja dengannya. Aku menyanggupinya. Tapi dia memintaku untuk tidak mengambil cuti dan dia akan mengganti uang tiket. Awalnya aku menyetujui semua itu.
Di sini aku mendapat tugas untuk menjaga seorang bocah umur 5 tahun, seumur dengan putriku. Di antara kami pun mulai terjalin sebuah ikatan yang kuat yang membuat kami saling menyayangi. Dia sangat senang ketika tahu bahwa aku tidak mengambil cuti pulang Indonesia.
Aku menelepon ibuku, dan bilang kalau aku tidak akan pulang. Tapi tiba-tiba, ibu menangis. “Masya Allah, Arum anakku, apa kamu tidak kasihan pada putrimu? Setiap malam, sebelum tidur, dia selalu bertanya, kapan ibuku pulang? Aku kangen,” kata ibuku dalam sebuah obrolan di HP.
Aku tak kuasa menahan tangisku. Aku menyampaikan maksudku pada majikan untuk minta cuti di akhir kontrak. Tapi, dengan tegas, dia menjawab: “Tidak!”. Majikanku bilang akan memberiku uang tiket lebih kalau aku tidak mengambil waktu cutiku. Dia berjanji untuk memberiku HK$8000. Tapi, apa pun janjinya, berapa banyak ribu dolar yang akan dia berikan untukku, rinduku takkan tergantikan dolar. Rinduku tidak bisa dijual. Aku tetap ingin cuti, menjenguk putriku.
Alhamdulillah, karena doa dan ikhtiar, hati majikanku terbuka. Dia memberiku izin cuti.
Pesanku pada semua BMI Hong Kong, jangan sampai karena dolar, kita jadi lupa sama keluarga, sama anak, sama suami. Sebenarnya, merekalah harta kita yang paling berharga. Semoga ini bisa dijadikan sebagai pembelajaran untuk kita semua, sejauh apa pun jarak, jangan sampai hubungan komunikasi terputus. Tetap bersilaturahmi, dan tunjukkan bahwa dolar bukan segalanya. Keluargalah yang paling utama.

No comments:

Post a Comment