Kesabaran Neyla Berbuah ManisBuruh Migran Indonesia (BMI) Hong Kong yang jadi aktivis sosial dari Halaqoh Minggu, sebut saja namanya Neyla, menceritakan tentang sebuah pengalaman hidup yang tidak pernah bisa dia lupakan seumur hidupnya. Keikhlasan dan kesabarannya berbuah manis. Berikut ini penuturannya:
Tak pernah kubayangkan sebelumnya kalau janda menjadi statusku saat ini. Tiga tahun lalu, aku terus bertahan walau suamiku seorang yang tempramental dan ringan tangan. Hinaan, cacian, dan makian sudah menjadi santapanku sehari-hari. Namun, demi mengemban tugas mulia sebagai seorang istri, seburuk dan sebejat apa pun dia adalah imamku yang wajib aku patuhi.
Suamiku bergaya hidup mewah, tak peduli walau harus utang bank. Aku hanya bisa pasrah karena takut kerasnya pukulan tangannya. Hingga akhirnya utang pun menggunung, tanpa sanggup lagi kami menanggungnya. Sawah hasil jerih payahku selama aku masih gadis pun terancam disita pihan bank.
Demi Allah, utang bank adalah hal yang sangat aku takuti. Tapi, lagi-lagi aku tak berdaya. Di dalam kemelut yang begitu menakutkan itu, aku berdoa kepada Allah. “Ya Allah, berikan aku kemudahan di dalam mengemban amanah-Mu, berjihad demi keluargaku,” pintaku. Kuputuskan untuk menelepon kembali majikanku yang dulu dan alhamdulillah prosesnya begitu mudah. Dalam sebulan aku langsung berangkat ke Hong Kong. Kemudahan demi kemudahan kutemui.
Namun, ternyata ujianku belum selesai sampai di situ. Tiga bulan aku di Hong Kong, aku mendengar kabar dari kampung halamanku bahwa anakku telantar, tidak diurus oleh bapaknya yang enak-enakan pergi-pulang semaunya dengan perempuan yang bukan muhrimnya. Bagai menggenggam bara, aku mencoba terus bertahan demi masa depan anakku.
Tepat 10 bulan aku bekerja di Hong Kong, di saat potongan agen baru selesai, aku yang tengah berjuang mengumpulkan uang demi menebus sawah kami yang sudah digadaikan. Di saat aku meringkuk tanpa ampun, ucapan talak suamiku menggelegar menambah ujian bagiku. Kuterima dengan lapang dada, mungkin inilah yang terbaik untukku.
Aku pun berdoa semoga kelak ia mendapatkan yang lebih baik dari aku. Dengan terus semangat dan terus berusaha, akhirnya aku dapat melunasi semua utang yang membelenggu. Gaji pertamaku aku sumbangkan untuk anak yatim dan fakir miskin sebagai wujud syukurku kepada Allah karena telah terlepas dari ujiannya. Alhamdulilah, dengan kesabaran dan terus berdoa, walau kini aku berstatus janda, namun iman masih melekat di dada.
Terima kasih ya Allah atas ridhoMu. Kini aku bisa optimis melangkah, merenda hari esok. Semoga hidupku lebih baik dari hari ini.
Satu pesanku untuk teman-teman, janganlah kejahatan di balas dengan kejahatan, karena balasan Allah mahadahsyat lagi mengerikan. Rumah dan semua harta yang dulu dibangga-banggakan suamiku kini ludes, tak tersisa. Na’udzubillahi min dzalik.
Semoga kita tetap semangat dalam berjuang menggapai cita-cita, demi masa depan anak-cucu kita nanti. Ingat Allah di kala lapangmu, pasti Allah akan mengingatmu di saat kau sempit.

No comments:
Post a Comment