Saturday, September 29, 2012

Sri Nekat Berjualan di Victoria Park

Sri Nekat Berjualan di Victoria ParkMinggu pagi di sekitar Victoria Park, Sri (nama samaran), Buruh Migran Indonesia (BMI) asal Ponorogo, Jawa Timur, telah mematok tempat di bawah jembatan layang untuk memasarkan dagangannya –nasi ikan, nasi ayam, dan masih banyak lagi menu yang bisa dipilih.
Wanita berusia 30-an tahun ini datang ke Hong Kong dari tahun 1995 karena ada masalah keluarga. Dia sering berselisih paham dengan mertuanya. Suaminya pun jadi ikut-ikutan “menyatroninya”.
Usai kontrak pertama, dia pulang untuk menyelesaikan perceraian dengan suaminya. Dia kembali lagi ke Hong Kong dengan majikan yang berbeda. Tugasnya menjadi double setelah mempunyai status baru sebagai “single parent” dengan dua anak.
“Mantan suamiku sudah tidak mau tahu tentang kami lagi. Kabar terakhir yang aku dengar, dia kecantol dengan wanita lain dan sekarang menghilang tanpa kabar,” katanya.
Tahun 2007, majikan Sri memintanya untuk Stay Out. Majikan menanggung semua biaya sewa kamar dan transportasi. Jam 7 pagi dia datang ke rumah majikan dan bekerja hingga jam 9 malam. Sejak saat itu, dia sering “keluyuran” dengan temannya hingga menyebabkan pengeluarannya “membengkak”.
Tak ada pemasukan kecuali dari gaji per bulan. Beruntung, di tempat kostnya, ada sebuah dapur yang bisa digunakan. Dia mulai mencoba untuk memasak makanan dan menjualnya kepada para BMI yang sedang libur tiap Minggu di Causeway Bay. Ternyata, banyak yang suka masakannya hingga dia mempunyai banyak pelanggan.
Banyak di antara penjual lain yang memesan masakannya untuk dijual kembali oleh mereka. Selain itu, dia juga menerima pesanan tumpeng. Dari jualan inilah, Sri mempunyai pemasukan lebih untuk dikirim ke kampung halaman, untuk kedua anak dan orangtuanya.
Ada suka pasti ada dukanya. Selama jualan di Causeway Bay, sering sekali ada polisi yang berkeliling dan mengawasi kegiatan libur BMI. Tidak jarang barang dagangannya disita oleh polisi-polisi yang berpakaian preman (tidak berseragam). Bahkan, dia juga pernah dipelototin dan digertak oleh “Pak De” –sebutan khas BMI kepada polisi Hong Kong. Hal itu tidak membuatnya kapok, justru dia malah semakin nekat. Seperti makan nasi dengan lauk sambal. Walaupun kepedesan, tetap nambah lagi.
Dia mengaku, ada salah satu temannya yang tertangkap basah sedang berjualan. Polisi langsung menangkapnya. Selang beberapa minggu, temannya dipulangkan ke Indonesia. Menurut pengetahuannya, ada yang didenda, ada juga yang dipenjara. Semua tergantung keputusan pengadilan.
Pesannya untuk BMI, tidak usah kepengen dan ikut-ikutan teman untuk stay out. Ingat pada tujuan kita ke sini untuk mencari dolar, bukan untuk kebebasan. (Yulia Cahyaningrum/ddhongkong.org).*

No comments:

Post a Comment